Aurel Hermansyah: Perbedaan Parenting Aurel dan Atta untuk Kedua Anaknya
Guest: Aurel Hermansyah
TLDR
Aurel Hermansyah cerita jujur soal menikah di usia 22 — dari syok di bulan pertama sampai minta pisah, belajar menurunkan ego anak pertama, sampai menemukan ritme parenting bersama Atta. Atta yang sabar jadi penyeimbang Aurel yang tegas. Kuncinya: hari Minggu sakral buat keluarga, pillow talk tiap malam, dan jangan pernah ancam pasangan waktu marah.
Poin Penting
Bulan pertama menikah, Aurel minta pisah karena syok — ekspektasi pernikahan dari drakor vs realita harus ngurus rumah sendiri. Pelajarannya: jangan pernah ancam pasangan waktu marah, karena belum tentu dia bagging kayak di film. Atta justru bilang 'oke, ayo anter' — dan itu jadi tamparan yang bikin Aurel belajar
Atta bikin sistem poin untuk anak: setor hafalan surat, doa, atau perilaku baik = dapat poin (Rp100.000/poin) yang bisa ditukar mainan. Anak jadi termotivasi belajar dan belajar mengelola uang. Ide ini sepenuhnya dari Atta — bukti co-parenting yang saling melengkapi
Couple time itu wajib: Senin-Jumat tidur sama anak, Sabtu-Minggu waktunya orang tua berdua. Hari Minggu sakral — no kerjaan, no janjian. Plus pillow talk setiap malam sebelum tidur untuk tetap terhubung
Tips Praktis
Bikin satu aturan sakral bersama pasangan yang nggak boleh dilanggar. Buat Aurel dan Atta: hari Minggu = hari keluarga, titik. Nggak perlu banyak aturan — cukup satu yang konsisten. Bilang ke teman dan tim: 'Maaf, Minggu hari keluarga.' Lama-lama semua orang paham.
“Pernikahan itu nggak seperti drakor, Ma. Tapi juga nggak sehoror yang diceritain orang. Yang tadinya kita lemah, dengan ujian dalam hubungan justru bikin kita lebih kuat dan lebih menghargai satu sama lain.”