Anak Makan Banyak, tetapi Tinggi Tidak Bertambah?
Guest: dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH
TLDR
Anak makan banyak tapi tingginya nggak nambah? Ternyata bisa karena hidden hunger — kekurangan mikronutrisi seperti vitamin D dan zink yang nggak kelihatan dari luar. dr. Mesty Ariotedjo, dokter anak yang baru ditunjuk sebagai Young Global Leader 2026 oleh World Economic Forum, menjelaskan bahwa genetik cuma menyumbang 20-30% untuk tinggi optimal, dan 40% pertumbuhan tinggi justru terjadi di masa childhood (2 tahun sampai pubertas) — periode yang sering dilupakan orang tua.
Poin Penting
Genetik bukan segalanya, Mama. Studi terbaru menunjukkan potensi genetik hanya 20-30% untuk tinggi optimal. Contohnya: orang Korea Utara dan Korea Selatan genetiknya sama, tapi beda tinggi 13 cm karena faktor nutrisi dan lingkungan. Jadi masih banyak yang bisa Mama optimalkan!
Hati-hati hidden hunger — 1 dari 2 anak Indonesia kekurangan mikronutrisi (zink, vitamin D, zat besi) tanpa gejala yang terlihat. Anak kelihatan makan banyak dan berat naik, tapi tingginya stagnan karena proteinnya terbuang atau tulangnya nggak dapat nutrisi yang dibutuhkan
Jangan lupakan karbohidrat! Banyak orang tua fokus banget ke protein hewani sampai karbo-nya nggak dimakan. Akibatnya protein dibakar jadi energi, bukan disimpan untuk pertumbuhan. Porsi ideal: 50% karbo, protein sekitar seperempatnya
40% pertumbuhan tinggi terjadi di childhood (usia 2 tahun sampai pubertas) — justru di periode yang sering diabaikan orang tua setelah 'golden period' 1000 hari pertama. Pantau kurva tinggi dan berat badan secara berkala, jangan cuma di 2 tahun pertama dan pubertas
Stres pada anak — baik psikis maupun fisik — meningkatkan hormon kortisol yang menghambat hormon pertumbuhan. Lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan orang tua yang nggak mengejar kesempurnaan justru mendukung anak tumbuh optimal
Tips Praktis
Mulai hari ini, plot tinggi dan berat badan anak di kurva pertumbuhan secara rutin — bisa pakai aplikasi 'Tentang Anak'. Untuk usia 0-1 tahun: tiap bulan, 1-3 tahun: tiap 3 bulan, 3-6 tahun: tiap 6 bulan, 6-18 tahun: tiap tahun. Yang penting bukan angka sesaat, tapi trennya — apakah naik sejalan dengan kurva atau mulai mendatar. Kalau mendatar, segera konsultasi ke dokter anak.
“Kasihanilah diri kita sendiri dulu, baru kita bisa memberi kasih ke anak-anak kita. Ketika kita lebih baik ke diri kita, kita ke anak kita juga lebih baik — pertumbuhannya juga pasti lebih baik.”